Cozzy – Soto Legendaris Semarang, Soto Bangkong Soto Bangkong Legendaris, Kuliner Semarang, Icip-icip di Semarang
Pertama Kali Dijajakan Pada Tahun 1950
Berkunjung ke Kota Semarang jika tidak mampir di warung Soto Bangkong terasa ada yang kurang. Karena Soto Bangkong memiliki khas rasa yang sudah melegenda, dengan semangkuk soto dengan aneka jenis aneka sate dan lauk lainnya membuat kita merasa ketagihan.
Soto Bangkong berada di Jalan Brigjen Katamso No. 1 Semarang.
Walaupun namanya Soto Bangkong, jangan berfikir kalau daging yang dipakai adalah daging bangkong atau katak. Diberi nama demikian karena dahulu, Pak Soleh pemilik warung, berjualan di daerah yang bernama Bangkong. Setiap anak Pak Soleh mendapat hak mendirikan cabang restoran Soto Bangkong sesuai jumlah anak masing-masing.
Jadi, seandainya seorang anak memiliki empat anak (cucu bagi Pak Soleh), maka ia berhak mendirikan lima cabang, yakni masing-masing satu untuk anak-anaknya dan satu untuk dia sendiri.
Melalui sistem itu, diharapkan sepeninggal Pak Soleh kelak, tak terjadi rebutan di antara anak-anaknya tentang siapa yang berhak meneruskan usaha soto tersebut. Meski hanya berjualan soto, aset Soto Bangkong tak bisa dipandang remeh.
Jauh pada tahun 1970-an, Pak Soleh sudah mampu menyekolahkan dua anaknya ke Jerman sampai meraih gelar sarjana dengan biaya sendiri dan naik haji hingga dua kali. Semua berkat soto. Pak Soleh berjualan soto di Semarang sampai era revolusi fisik tahun 1945. Dengan ikut juragan soto di daerah Karangkojo, Pak Soleh dipercaya membawa satu angkring soto untuk berdagang di kawasan perempatan Bangkong dan sekitarnya.
Cerita kelezatan soto Pak Soleh kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan mendapat julukan Soto Bangkong.
Tahun 1957, Pak Soleh mematenkan nama tersebut dan mulai membangun warung permanen sederhana di samping Kantor Pos Bangkong, yang masih ada dan menjadi pusat dari jaringan Soto Bangkong sampai kini. Kini kios tersebut telah berkembang besar dan telah memiliki jaringan lebih dari 20 restoran yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Jika Anda mengunjungi restoran yang berada di tengah kota ini, Anda masih dapat melihat angkringan khas penjual soto jaman dahulu. Dan jika saat Anda berkunjung Pak Soleh sedang berjaga, Anda bisa meminta beliau untuk meracikkan soto khas Semarang ini.

Usaha yang dirintis Pak Sholeh dari soto pikulan (dijual keliling lewat cara dipikul) tahun 1950 itu menjadi jujugan wisatawan saat berkunjung ke Kota Semarang. Disajikan dalam mangkuk kecil, soto ayam olahan Pak Sholeh berisi nasi, mi soun, tauge, irisan tomat, suiran daging ayam, taburan seledri dan bawang goreng, serta kuah kaldu ayam kental yang diambil dari panci di pikulan bambu yang dulu digunakan Pak Sholeh berjualan. Soto Bangkong memiliki kuah khas yang bening agak kecoklatan, ini dikarenakan tambahan kecap yang diberikan. Untuk nasi, Anda bisa meminta untuk dicampurkan dalam soto ataupun terpisah.
Soto Bangkong dihidangkan dalam mangkuk kecil namun tinggi seperti mangkok yang digunakan soto Kudus, hanya saja ukuran mangkuk Soto Bangkong sedikit lebih besar. Bau harum dari taburan bawang goreng yang tersiram kuah kaldu panas pasti menggugah selera siapa saja yang mencium. Soto ayam akan disajikan bersama irisan jeruk nipis dan irisan bawang. Soto ayam ini semakin nikmat saat disantap bersama lauk pendamping, di antaranya sate ayam, sate kerang, sate telur puyuh, sate tempe, sate perkedel dan krupuk. Semangkuk soto ayam di Soto Bangkong dibanderol Rp 13.000. Harga lauk yang disuguhkan beragam.







